|
Eksportir Diminta Terlibat NSW [Selasa, 12 Agustus 2008 10:28:45 AM, Bisnis-Jakarta]
SEMARANG - Pelaksanaan
National Single Window (NSW)
tahap II yang diluncurkan di Semarang,
kemarin, ke depan diharapkan
eksportir bisa terlibat.
“Tentu kita mengharapkan
perluasan tidak hanya cakupan
lembaga atau pemerintah yang
masuk NSW, tetapi juga penambahan
jumlah importir, dan bahkan
eksportir akan masuk,”
kata Menteri Keuangan Sri
Mulyani di Semarang, seusai
peluncuran NSW II.
Menkeu mengatakan, saat
ini institusi pemerintah yang
telah tergabung NSW II menjadi
15 atau bertambah 10 instansi
yang baru bergabung
mulai akhir Juni 2008.
10 instansi baru tersebut,
Departemen Perindustrian, De-
partemen Kesehatan, Departemen
ESDM, Kemeterian Lingkungan
Hidup, Departemen
Kehutanan, Departemen Pertanian,
Departemen Pertahanan,
Ditjen Pos dan Telekomunikasi,
BAPETEN, dan Polri.
Peluncuran implementasi
tahap kedua sistem NSW di
Semarang, selain Menkeu, hadir
juga Menteri Perhubungan
selaku Wakil Ketua II Tim Persiapan
NSW Jusman Syafii Djamal
dan Menteri Komunikasi
dan Informatika M Nuh.
Menkeu mengatakan, pelaksanaan
NSW II difokuskan di
Bandara Soekarno-Hatta (Cengkareng,
Jakarta), Tanjung Perak
(Surabaya), Tanjung Emas (Semarang),
dan Belawan (Medan).
Penerapan sistem NSW digunakan
untuk melakukan
pembenahan pelayanan dokumen
kepabeanan dan perizinan
ekspor dan impor. Melalui penerapan
sistem NSW, maka dapat
dilakukan penyelarasan
semua ketentuan, prosedur,
dan proses bisnis yang terkait
dengan ekspor impor.
Penerapan sistem NSW juga
dapat dijadikan momentum untuk
membenahi aspek koordinasi
antarinstansi terkait, sehingga
berbagai persoalan yang terjadi
karena lemahnya koordinasi
antarinstansi dapat lebih
mudah diatasi secara sistemik.
“NSW hanya satu elemen
untuk percepatan arus barang.
Arus barang diharapkan lebih
cepat dan akurat,” katanya.
Menkeu mencontohkan,
barang A disebutkan harganya
Rp 5 ternyata harganya Rp 20.
Hal-hal semacam itu, dapat lebih
mudah diketahui.
“Tidak perlu interaksi dengan
petugas, harus menyogok,
dan berbagai macam high
cost economy (ekonomi biaya
tinggi) tetapi penerimaan negara
bisa teradministrasikan dan
bahkan terdeteksi secara langsung,”
katanya.
Ia menjelaskan, pelaksanaan
NSW akan sangat berpengaruh
pada pertumbuhan ekonomi karena
sebagai faktor penunjang
yakni investasi, ekspor, dan impor
meningkat cukup tinggi.
“Program NSW merupakan
langkah untuk mempercepat
atau menjaga momentum pergerakan
ekonomi yang sudah
baik ini,” ujarnya.
Menkeu menambahkan,
perbaikan yang sudah berlangsung
di Tanjung Priok
(NSW dimulai tahun 2007) dengan
hasil arus barang meningkat
saat pertumbuhan ekonomi
tinggi dan penerimaan
negara jauh lebih cepat dari
peningkatan biasanya.
“Itu, menunjukkan bahwa
yang kita lakukan dengan memperbaiki
sistem, menyederhanakan
peraturan telah membawa
hasil yang positif,” katanya.
Menkeu berharap pelaksanaan
NSW II di daerah kendalanya
mudah diatasi, berbeda
dengan di Tanjung Priok
yang berada di Jakarta sehingga
koordinasi antar instansi pemerintah
lebih mudah. (ant)
|