Home |
     

 

 

 

 

 

 
 
Ada 2 User Sedang Online

Sektor Unggas Sumbang Inflasi

[Selasa, 12 Agustus 2008 10:27:23 AM, Bisnis-Jakarta]
JAKARTA - Sektor perunggasan nasional memberi tekanan cukup hebat terhadap angka inflasi. Selama semester satu 2008, daging ayam dan telur memberi kontribusi hingga 8,4 persen terhadap inflasi. Demikian Deputi Menko Bidang Pertanian dan Kelautan Bayu Krisnamurhti dalam seminar di Jakarta, kemarin. Bayu menuturkan, pada daging unggas memberi sumbangan inflasi bahan makanan mencapai 13 persen. Sedangkan pengaruhnya terhadap inflasi total sekitar 5,2 persen. Sementara, untuk telur unggas sendiri berkontribusi sekitar 10,4 persen terhadap inflasi bahan makanan dan 3,3 persen terhadap inflasi total.

Menurut Bayu, harga unggas tidak ditentukan pemerintah, “Karenanya pemerintah meminta pelaku pasar dapat menekan harga daging dan telur unggas,” harapnya. Bayu menambahkan, kondisi produk perunggasan nasional kian suram setelah mengalami masa puncak pada tahun 2002 tumbuh cukup baik yaitu 11 persen.

Kondisinya melorot setelah mendapat hantaman kasus flu burung pada 2003 dan diperparah kendala faktor daya beli yang rendah karena tingginya harga pakan ternak, seperti jagung, kedelai dan lain-lain. Namun, disisi lain, pengusaha unggas juga enggan berinvestasi jangka panjang. Waktu flu burung terbilang sudah lama, namun hingga sekarang belum ada realisasi investasi besar.

“Apalagi sekitar 80 persen produk unggas dipasarkan tanpa memperhatikan praktik pasar yang baik. Pendistribusiannya tidak memperhatikan kebersihan, jadi mudah terkena kuman,” kritik Bayu. Data dari Pusat Informasi Pemasaran Hasil Unggas (PINSAR) menyebutkan harga/ kg daging ayam antara Rp 20 ribu - 25 ribu dan harga telur ayam sekitar Rp 14 ribu/kg. Ketua Umum Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas Paulus Setiabudi menyatakan, kenaikan harga daging ayam itu tidak terlepas dari kenaikan harga pakan.

Misalnya ayam boiler, harga pakannya saat ini mencapai Rp 5.300/ kg. Sedangkan, harga pakan ayam layer sebesar Rp 4.200/kg. Selain itu, daya beli masyarakat yang tidak terlalu tinggi, juga diakui, juga membuat harga unggas. Prinsipnya, sambung Bayu, pemerintah ingin masyarakat dapat meningkatkan konsumi produk unggas daging dan telur lebih banyak. (ind)


 
 




Untitled Document
BJ Polling
Bagaimana menurut anda isi koran Bisnis Jakarta
Bagus
Biasa
Jelek
Tidak tahu


Lihat Hasil
Version 2.04

 


 

 

 

     

Best Preview : 1024 x 768 pixel
@Copyright 2007 Bisnis-jakarta.com. All rights reserved.

Home